Saturday, June 27, 2015

Berjalan Sedikit Jauh


Again???” tanya Kayla, temanku sejak kami masih sama-sama bocah ingusan yang tidak tahu apa-apa. Mungkin saat ini aku sudah menganggapnya seperti saudara sendiri. Ia selalu begitu, ekspresif tentang apapun yang ia sampaikan. Mungkin hal itu yang membuatku senang bercerita padanya, karena ia selalu memberi tanggapan-tanggapan dengan ekspresinya yang tak biasa. Seperti saat ini, saat aku bercerita aku dan teman-teman jurusanku akan pergi – yang menurut dia sudah terlalu sering – menjelajah keindahan di Indonesia, ia tampak kaget.
            Aku tertawa melihat ekspresinya, “terakhir dua minggu lalu loh, Kay. Mau ikut?” ajakku walau aku tahu ia pasti menolaknya.


Tuesday, June 23, 2015

Merindu

Rindu ini terlalu menyiksa
Karena sang hati sudah tenggelam
Dan sang akal hanya diam

Rindu ini terlalu menyiksa
Karena jiwa sudah terkapar
Dan sang raga hanya terpaku

Rindu ini terlalu menyiksa
Karena mata sudah buta
Dan sang bibir hanya bisu

Lagi-Lagi

Lagi-lagi
Sekali lagi ia torehkan tinta itu
Tinta merah pertanda dirinya dalam amarah
Kini ia sudah pasrah dan menyerah

Lagi-lagi
Sekali lagi ia tumpahkan harapannya
Harapan tentang ia dan kasihnya
Kini kasihnya hilang, telah diambil orang

Lagi-lagi
Sekali lagi ia menggumam
Tentang penyesalan akan kelalaiannya
Kelalaian menjaga kasihnya

Friday, June 19, 2015

Pecundang

Sebut aku pecundang karena tak mampu mengatakan ini padanya.
            Sebut aku pecundang karena menantikan, mencari, menunggu waktu yang tepat bukannya menciptakan waktu yang tepat untuk mengatakan semua ini pada Zara, perempuan yang membuatku mengenal kehidupan. Kata-kata yang ku rangkai selama ini terasa sia-sia hanya karena ciutnya nyali yang kupunya setiap bertemu dirinya, setiap melihatnya tersenyum. Seperti saat ini.
            “Hei, maaf lama ya.” Sapanya sambil tersenyum manis. Kau pinta aku menunggu lebih lama pun tak apa, asal aku masih bisa melihat senyummu.
            “Engga, kok...” jawabku, menggantung. Ide gila itu tiba-tiba terlintas. Apa harus ku katakan semua ini sekarang? Apa waktunya tepat? Sial. Aku tidak akan pernah menemukan waktu yang tepat jika aku harus menunggu, aku harus menciptakannya.
            “Zara...” panggilku, masih mengumpulkan keberanian itu.
            “Kenapa, Raf?”
            Andai kamu mampu membaca mataku, menelusuri isi hati dan pikiranku, semua ini akan lebih mudah, Zar.
            “Berangkat sekarang yuk.”

            Sebut aku pecundang karena masih tak mampu mengungkapkan ini semua. Aku hanya ingin mencintaimu seperti hujan, murni dan kuat. Mungkin tak sekarang, tapi aku pastikan kau akan segera mengetahui rahasia hatiku.

Monday, June 15, 2015

Spasi

"Kita harus berpisah, Ren." Aku hanya bisa diam, setiap kata yang ia ucapkan saat ini membuatku semakin sakit. "Listen, it's not about you. It's about me. You do nothing wrong, but I have to go. Ok?"
"I'm not ok, Evan." Suaraku bergetar menahan tangis. Aku tidak siap dengan ini.
"You will. See you when I see you." Apa ini senyum terakhirnya untukku? 

*** 

Mungkin akan lebih mudah bagiku untuk menerima kenyataan jika ia jujur dari awal. Dia tidak mengatakan alasannya dengan jelas. Dia meninggalkanku dalam bayangan kebingungan.
Aku melihatnya. Aku melihatnya bersama seorang wanita anggun. Mereka tertawa seraya menyantap makanannya. Dan aku hanya bisa melihat mereka dari kejauhan. Walau sebenarnya ingin, aku tak lagi bisa menegurnya. Aku tak punya hak untuk itu. Aku bukanlah siapa-siapa lagi untuknya, dan aku sadar spasi itu memang ada.

Wednesday, June 10, 2015

(Kebanyakan) Mahasiswa Sekarang

Ini murni pendapat aku, tanpa bermaksud untuk menyinggung, tapi maaf kalau menyinggung(?). Aku hanya ingin menyampaikan apa yang ingin aku sampaikan lewat tulisan, enjoy! :)

Kita tahu, hampir di semua perguruan tinggi mengadakan kaderisasi untuk para mabanya dengan cara yang berbeda. Memang masih berhubungan dnegan kaderisasi, tapi apa yang akan aku bahas sekarang bukan masalah bagaimana kaderisasi yang tepat blablablanya. Ada hal menyedihkan yang aku temui dari kaderisasi. Banyak mahasiswa yang mengagung-agungkan kaderisasi ini dan itu, merasa kaderisasinya paling keras, disiplin, berhasil dan sebagainya.


*ga bahas wisudaan* ._.

Sunday, June 7, 2015

Perpisahan

Perpisahan sering dikaitkan dengan hal-hal menyedihkan atau menyakitkan. Padahal, tak selamanya perpisahan itu menyedihkan. Namun, perpisahan yang mereka rasakan ini memang menyedihkan, menyakitkan. Bukan perpisahan yang mereka inginkan. Perpisahan yang menyedihkan. Saat pihak-pihak yang ada ingin bersama, tapi keadaan berkata lain.

Nadya hanya bisa memandangi Naren dari jauh saat ini, entah sampai kapan. Naren tampak tak berubah, ia masih tertawa seperti biasa. Apa Naren memang baik-baik saja? Karena Nadya tidak, ia tersiksa. Kata-kata yang Naren sampaikan sebelum akhirnya mereka berpisah terus terngiang.

“Sela-sela jarimu diciptakan bukan hanya agar orang lain bisa mengisi sela-sela itu, tapi artinya kamu juga bisa menggenggam dirimu sendiri, kamu bisa berkembang sendiri, kamu bisa mengurus dirimu sendiri. Bisa ya tanpa aku?”

Nadya tersenyum sedih. Entah sampai kapan ia bisa bertahan. Ia belum bisa, dan mungkin takkan pernah bisa, merelakan Naren. Khayalan Nadya melambung ke masa lalu. Ke masa-masa di mana ia dan Naren masih bersama, mengukir harapan bersama, melakukan hal-hal konyol bersama. Air mata Nadya terjatuh lagi, ia terlalu merindukan Naren. Di sela tangisannya ia berharap.


Tuhan, aku ingin bersama Naren.