Wednesday, August 6, 2014

Masa SMA (belum) Berakhir



                Sumpah, ga kerasa banget kalo gue udah mau kuliah, mahasiswi baru, udah bukan pelajar  SMA lagi, udah jadi alumni smanti Bogor – yang gue sayang dan banggakan – anjas. Hari ini, gue ke sekolah, ngambil ijazah, dan ada atmosfer haru melingkupi hati gue (???). Gue dateng ke smanti udah ga make putih abu, pake baju bebas. Udah ada angkatan lain yg gantiin angkatan gue. Waktu gue salim sama guru-guru, gue udah jadi alumni. Waktu gue ke kantin bareng temen-temen, kami udah alumni. Udah, ga ada lagi yang namanya ngomongin ini sama temen-temen SMA,
“ih males besok sekolaaah.”
“Gue pengen libur.”
“Besok seragam biasa kan?”
“Bawa apa aja sih besok?”
                “Hari pertama ga langsung belajar kan?”
                Dan tiba-tiba gue merasa jadi mellow gini sekarang. Izinkan gue bercerita sedikit – boong, banyak – tentang masa SMA gue, izinkan…

Monday, March 31, 2014

Matahari dalam Senja dan Fajar


I almost forget how it feels of being waited by someone. I almost forget how it feels of being together with the loved one. I almost forget how it feels to be home. But now, I’m here. In a place I call home.

***


Sudah lima tahun aku tak merasakan lembutnya pasir, deruan ombak, dan semilir angin di pantai Nusa Dua ini. Tempat yang sudah mengukir banyak kenangan masa kecilku, tempat aku menunggu terbit dan terbenamnya matahari. Dan tempat aku bertemu matahariku, seorang lelaki yang tak ku tahu namanya, namun sudah sangat kukenal kebiasaannya. Menunggu datang dan perginya matahari di tempat yang sama. Sejak ku tahu kebiasaannya itu, aku mulai menyebutnya dengan sebuah nama, Matahari.
Pagi ini, aku kembali menjalani kebiasaan yang sangat kurindukan. Entah karena hati kecilku yang terlalu berharap lelaki yang kusebut Matahari itu akan datang ataukah ini memang kenyataan, aku melihatnya. Aku kembali melihatnya. Ia berjalan mendekati bibir pantai dan membiarkan jari-jari kakinya disentuh oleh air pantai yang sejuk itu. Awalnya aku mulai ragu, apa benar ia Matahari yang sama? Aku masih memandanginya, berusaha mencari bukti bahwa itu memang dirinya. Mungkin ia sadar sedang diperhatikan, tiba-tiba ia menoleh dan tatapan kami bertemu sepersekian detik sebelum akhirnya ia kembali menatap langit yang sudah mulai memerah.
Saat itu pula kurasakan jantungku berdegup kencang, aku yakin, itu dirinya, itu Matahari. Aku benar-benar mengenal wajahnya. Rahangnya yang terlihat begitu kokoh, bibir tipisnya yang diperindah dengan hidung mancungnya, dan alis tebal yang menemani kedua matanya yang terlihat sedikit sayu. Aku seolah-olah lupa dengan tujuan awalku, bukannya menatap langit, aku malah terus menatapinya. Mungkin aku tak bisa benar-benar menyaksikan bagaimana matahari terbit hari ini, namun yang pasti, aku berhasil melihatnya kembali.

***

“Tumben sekali kau ke sini, Senja. Ada apa?” tanya Ibuku sedikit kaget melihat kedatanganku siang ini ke De Opera, salah satu beach club ternama di Bali yang dikelola oleh Ayah dan Ibuku.
            “ I miss you so much, so I decided to spend my afternoon here, before I go to the beach to see sunset that I always love.” Jelasku panjang lebar setelah memeluk dan mengecup pipi Ibuku.
            “Oh honey, I miss you more. But sorry, Ibu tak bisa temani kamu siang ini. I have something to do. But I promise, tonight we will have dinner together at Hong Xing, with your dad and brother.
            “Seriously?” Aku tak pernah sesenang ini, aku begitu merindukan makan malam bersama keluargaku. Ibu mengangguk mantap dan aku kembali memeluknya. Ibu pamit untuk mengerjakan hal-hal yang terkait dengan beach clubnya ini.
            Aku memilih untuk berkeliling menikmati keindahan yang disajikan De Opera. Suasana yang disajikan begitu nyaman sehingga aku sempat berpikir untuk tak akan meninggalkan De Opera. Aku sangat bangga pada Ibu yang dengan sukses mengelola De Opera hingga menjadi salah satu beach club ternama di Bali

***

Sore ini, sengaja aku memilih tempat yang biasa Matahari duduki. Sedikit nekat mungkin, tetapi aku merasa… harus lebih mengenalnya. Aku ingin tahu siapa sebenarnya lelaki yang ku sebut Matahari itu.
“Hmmm… sorry, may I sit here? I mean here, umm… next to you.” Aku menoleh cepat mendengan seseorang berbicara. DEG! Matahari. Taktikku berhasil.
“Oh, hmm… yes.” Jawabku sok cuek. Lalu ia duduk di sebelahku dalam diam. “Sorry, you usually sit here, don’t you? Maaf ya, aku pikir ini tempat yang pas untuk melihat sunset.” Jelasku asal.
 “It’s ok.” Jawabnya singkat. Hening. Kami sibuk dengan pikiran kami masing-masing, ku lihat ia sibuk memandangi matahari yang kian turun. Aku memainkan pasir digenggamanku sambil sesekali meliriknya.
“Jadi… kenapa kamu selalu duduk di sini?” tanyaku berusaha membunuh keheningan yang mulai membuatku mati gaya.
Dia menoleh dan menatapku sebentar, ia tampak berpikir sebelum menjawab pertanyaannya. “Kebiasaan sejak kecil. My mom and I used to sit here, together, saw sunrise or sunset.” Jawabnya lalu diakhiri senyum yang tampak… sedih?
“Apa kamu… ga pernah ke sini lagi sama Mamamu?” tanyaku sedikit ragu.
Ia kembali terlihat berpikir. “She passed away. Heart attack, seven years ago.”
Aku kian merasa bersalah karena telah menanyakan pertanyaan bodoh itu. “Ah.. maaf. Aku… tidak tahu kalau…” belum aku selesai meminta maaf, ia sudah memotong kalimatku.
It’s ok, seriously. Itu udah lama banget.” Jawabnya sambil tersenyum ramah. Ia tak sedingin yang aku bayangkan. Aku menyadari hal baru dalam dirinya, matanya berwarna coklat, dan senyumnya begitu meneduhkan.
“Fajar.” Ucapnya tiba-tiba sambil mengulurkan tangan. “Aku Fajar.” Ucapnya sekali lagi.
Tanpa ragu aku balas uluran tangannya dan menyebutkan namaku, “Senja.” Setelah perkenalan singkat dengan Matahari yang ternyata bernama Fajar, kami menyaksikan matahari terbenam bersama sore itu. Saat itu pula, kami memutuskan untuk kembali bertemu esok pagi, saat terbitnya matahari, di tempat yang biasa ia duduki. Happiness is when I finally know his name.

***

 “Dad!” aku berseru kencang saat melihat Ayahku lalu berlari untuk segera memeluknya. “Finally, kita bisa makan malam bersama lagi.”
Ayahku mengecup puncak kepalaku lembut. “We better go now, Ayah udah minta sahabat Ayah untuk booking tempat untuk kita. Untunglah Ayah meneleponnya lebih cepat, katanya hari ini Hong Xing sedang ramai-ramainya.”
You’re the best, Dad! And… look!” aku kembali berseru kencang melihat sosok laki-laki tampan yang tak lain adalah adikku, Nara. “Five years is a long time, huh? Adik lelakiku ini kenapa tampan sekali?” tanyaku terkagum-kagum memandangnya. Jika aku bukan kakaknya, mungkin saja aku jatuh cinta pada Nara, hahaha.
And you look stunning, Senja.” Ucapnya balik memuji. Kami hanya berbeda dua tahun, jadi ia tetap memanggilku dengan panggilan Senja. Aku menyukai dan sangat merindukan hubungan persaudaraan kami yang kadang diwarnai dengan sedikit perselisihan, hal biasa.
Setelah sedikit senda gurau, akhirnya kami berangkat menuju Hong Xing. Sesampainya di Hong Xing, salah satu pelayannya yang ramah mengantarkan kami ke meja yang telah disiapkan. Benar saja, Hong Xing tampak ramai. Cahaya lampu oranye membuat suasana kian hangat. Kami memercayakan pilihan makanan malam ini pada Ayah, Ayah mengatakan ia tahu makanan terenak di Hong Xing.
Long time no see, Hari.” Suara berat yang begitu tenang menyapa Ayahku.
My brother, Dio!” aku biasa memanggilnya Om Dio, sahabat Ayah sejak kuliah yang juga pemilik Hong Xing. Karena kedekatan mereka, Ayah sudah menganggap Om Dio seperti saudara sendiri.
Is she Senja?” tanya Om Dio pada Ayahku. Ayahku menganggup dan aku hanya tersenyum. “Sudah dewasa ya, Senja. Kapan pulang dari Itali?” tanya Om Dio.
“Baru tadi malam sampai sini, Om.” Jawabku ramah.
“Sebenarnya aku sudah mengajak putraku yang seumuran dengan Senja untuk ke sini, tapi dia tidak mau, yasudahlah. Bagaimana kalau minggu depan keluargamu dan keluargaku makan bersama di sini?” ajak Om Dio. Aku tak pernah tahu bahwa Om Dio memiliki anak yang seumuran denganku, bagaimana bisa aku tidak mengetahuinya padahal sejak dahulu aku sudah mengenal Om Dio?
            “Ide bagus.” Jawab Ayah singkat.
            “Akan ku ajak istriku, kau pasti masih ingat dengan istriku, Asti, kan?” tanya Om Dio pada Ibuku.
            “Tentu saja, dia wanita yang sangat ramah.” Aku Ibu jujur.
            “Baiklah kalau begitu, silahkan nikmati hidangannya. Saya tinggal dulu.” Pamit Om Dio lalu beranjak meninggalkan kami.
            Tak lama kemudian, pesanan kami datang. Dengan lahapnya kami menikmati hidangan yang tersedia sambil sesekali diselingi gurauan ringan.
            “Emang Om Dio punya anak yang seumuran aku, Yah?” tanyaku pada Ayah.
            “Punya, laki-laki, setahu Ayah anak laki-lakinya itu semasa kecil tinggal bersama neneknya. Sejak tujuh tahun lalu kalau tak salah, ia baru pindah ke Bali.” Jelas Ayah, aku hanya menganggukkan kepala tanda mengerti. I wonder, who is that litte Om Dio?

***

“Kamu sudah di sini.”  Aku datang lebih dulu dari Fajar dan sudah dengan nyamannya duduk di tempat biasanya ia menikmati matahari terbit. Aku tersenyum melihat kedatangannya. Sesuai janji, kami akan menyaksikan matahari terbit dan terbenam bersama hari ini.
Pagi ini berbeda, aku tak langsung pulang setelah menyaksikan matahari terbit pagi ini. Aku dan Fajar sarapan bersama.
“Nanti sore, di tempat yang sama. Oke?” Tanya Fajar memastikan janji kami sore nanti. “Aku akan datang duluan.” Ucapnya yakin.
“Buktikan.” Ucapku seolah-olah menantangnya.
Sure.” Fajar menganggup mantap. “By the way, thankyou for having the sunrise with me, Senja.”
No problem.” Asal kau tahu, Fajar, menyaksikan matahari bersamamu itu salah satu keinginanku dari dulu.
See you soon.” Ucapnya. “See you.” Aku melambaikan tangan sebelum akhirnya kami benar-benar berpisah. Aku merasa seolah-olah aku mengenal Fajar sejak dulu. Mata coklatnya mengingatkanku pada seseorang, entah siapa. Berada di dekatnya membuatku nyaman, kami tak pernah merasa canggung walaupun kami tak berbicara. Dia benar-benar matahari, berada di dekatnya selalu menghangatkan.


*** 

Fajar menepati perkataannya, ia sampai duluan di pantai. Tanpa berkata apapun, aku langsung duduk di sampingnya lalu mengikat rambut panjangku asal.  “I’ve told you, aku datang duluan.” Ucapnya memulai percakapan.
“Sejak kapan kamu di sini?” tanyaku penasaran.
“Beberapa menit sebelum kedatanganmu, syukurlah aku tak terlambat.”
“Aku kira kamu tak pulang sama sekali.” Ucapku sambil tertawa, ia ikut tertawa renyah. “Which do you like the most, sunrise or sunset?” tanyaku tiba-tiba.
Can’t choose one of them. Aku suka semuanya, mereka saling melengkapi. Memangnya kamu bisa memilih di antara mereka?” Jawabannya membuatku sedikit berpikir. Apa kita juga akan saling melengkapi?
“Benar juga. Walaupun namaku Senja, aku tetap menyukai keduanya.”
Do you wanna countdown together? From five.” Ajaknya saat matahari mulai turun.
five… four…” aku mulai menghitung mundur. “Three… two…” gilirannya untuk berhitung. “One…” ucap kami bersamaan saat matahari akhirnya benar-benar terbenam dan hari mulai gelap. 
Kami menatap satu sama lain sambil tersenyum dalam diam. Cepat dan mengejutkan, ia mencium keningku secara tiba-tiba. Aku yang terlalu kaget hanya diam tanpa memberi reaksi apapun. Namun, dia terlihat salah tingkah. “Ma.. maaf… aku… ah, maaf.” Ucapnya tampak menyesal. Aku hanya tersenyum tanpa berkata. “I just feel like I’ve known you before, maaf tadi aku tiba-tiba…”
Akhirnya aku memotong kalimatnya, “it’s ok.” Lalu tersenyum lembut berusaha meyakinkannya bahwa semua itu tidak apa-apa, walaupun sebenarnya itu apa-apa karena berhasil membuat jantungku hampir meloncat keluar.
Kami memutuskan untuk segera pulang. Sejak kami beranjak dari pantai, ia selalu menggenggam tanganku dan aku tak berniat untuk melepaskan genggamannya, aku malah balik menggenggamnya. Namun, akhirnya kami harus berpisah hari ini.
Thanks for today, Fajar.” Ucapku tulus saat kami harus berpisah.
No, I thank you.” Senyumnya begitu meneduhkan.  Sejak saat itu, aku dan Fajar selalu menghabiskan pagi dan sore bersama untuk menyaksikan terbit dan terbenamnya matahari. Kami tak pernah membahas masalah saat ia tiba-tiba mencium keningku, dan kami tak pernah membahas apa sebenarnya hubungan kami. Tak jarang ia merangkulku saat sedang menyaksikan matahari, atau menggenggam tanganku saat kami hendak pulang. Satu yang pasti, aku selalu merasa aman dan nyaman berada di dekatnya.

***




Sesuai janji dengan Om Dio, malam ini keluarga kami dan keluarganya akan makan malam bersama di Hong Xing. Ayah bukan orang yang suka membuat orang lain menunggu. Sepuluh menit sebelum waktu yang dijanjikan kami sudah duduk manis menunggu keluarga Om Dio di Hong Xing. Aku merasa senang karena akhirnya akan bertemu dengan anak Om Dio. Aku lupa menceritakan tentang hal ini pada Fajar, saat bersamanya aku seolah-olah lupa akan hal lain.
“Hari, sudah di sini kau rupanya.” Sapa Om Dio yang baru saja datang dan langsung duduk di sebelah Ayahku.
“Di mana Asti dan anakmu itu? Mereka ikut kan?” tanya Ibu tampak heran karena Om Dio datang sendirian.
“Senja, kalau anaknya Om Dio ganteng ambil aja.” Bisik Nara sepelan mungkin agar tak terdengar Ayah, Ibu apalagi Om Dio.
Aku memukul Nara pelan, “jangan asal gitu dong.” Nara malah cekikikan pelan mendengar jawabanku. Lagipula, aku pikir aku sudah bertemu Fajar, dan dialah matahariku.
“Mereka sedang di jalan ke mari, aku sengaja duluan karena yakin kau akan datang secepat ini.” jelas Om Dio sambil tertawa kecil. “Ah itu mereka.” Ucap Om Dio ke arah pintu masuk melihat sosok istri dan anaknya yang datang.
“Siapa nama anakmu, Dio?” tanya Ayah.
“Fajar. Lucu sekali bukan? Anakmu bernama Senja dan anakku bernama Fajar.” Lalu mereka tertawa bersama.
Tunggu. Fajar? Fajar yang…
“Senja…” suara itu, suara yang sudah sangat familiar menyapa telingaku. Benar saja.
“Jar…” sapaku balik sedikit terkejut lalu berusaha memberikan senyum terbaikku.
“Kalian saling mengenal? Baguslah.” Tante Asti tampak senang melihat anaknya dan aku sudah saling kenal.
“Kalian kenal di mana?” tanya Ibu terlihat penasaran.
“Di pantai Nusa Dua, tante. Kami suka ketemu kalau nunggu sunrise atau sunset.”
“Ternyata anak kita memiliki hobi yang sama, Har.” Ucap Om Dio pada Ayahku. Dunia ini sungguh sempit. Aku selalu berandai-andai untuk mengenal Fajar lebih dekat dan ternyata dia adalah anak dari sahabat Ayahku.
Setelah kami memesan makanan dan menghabiskan makanannya, kami membicarakan banyak hal. Tentang studi ku ke Itali, tentang kehidupan Om Dio dan bagaimana akhirnya Fajar memilih untuk ikut orang tuanya untuk tinggal di Bali.
“Om Hari dan Tante Risa, Fajar boleh keliling sebentar sama Senja?” tanpa menanyakan pendapatku, Fajar langsung meminta izin pada orang tuaku. Baiklah…
Dengan mudahnya orang tuaku mengizinkanku untuk pergi bersamanya. “Pa, Ma, Fajar sama Senja dulu, just a minute.” Pamit Fajar pada kedua orangtuanya. Om Dio hanya mengacungkan jempolnya tanda setuju.
Setelah kami tak terlihat lagi oleh para keluarga, Fajar menggenggam tanganku. Kami berjalan dalam diam mendekati pantai.
“Kenapa kamu tak bertanya padaku terlebih dulu dan malah langsung bertanya pada orang tuaku?” tanyaku berusaha mencari jawaban atas kebingunganku.
“Kalau orang tuamu mengizinkan, kamu pasti mau.”
“Teori macam apa? Tunggu, aku bingung akan satu hal. Maaf aku membahas hal ini, katamu… Ibumu sudah meninggal, lalu tante Asti?”
She is my stepmother, she’s so kind.” Jelas Fajar.
 Aku mengangguk tanda mengerti.”Jadi, ada apa apa, Fajar?”
“Awalnya aku kira aku tak akan mengenalmu, perempuan yang diam-diam aku perhatikan sampai lima tahun lalu. Dan kembali kuperhatikan saat ini.” ucapnya tiba-tiba. Sepertinya aku lupa bernapas. “Hingga akhirnya kau sukses membuatku kaget karena duduk di tempat biasa aku menikmati matahari.”
“Fajar….kamu memerhatikan aku?” aku masih terlalu kaget.
“Ya, memang kenapa?” tanyanya bingung namun ia tetap melanjutkan kalimatnya. “Lalu aku tahu namamu, Senja.  Dan kau memiliki hobi yang sama denganku, menyaksikan matahari terbit dan terbenam. Untuk itu…” Fajar menarik napas panjang.”Maukah kau menyaksikan terbit dan terbenamnya matahari, fajar dan senja, bersama-sama?”
Tenggorokanku tercekat. Aku terlalu bingung. “Bukankah kita sudah melakukan itu?” tanyaku asal.
“Maksudku… untuk jangka panjang. Untuk masa depan. Menyaksikan fajar dan senja bersama little Fajar and Senja. Would you?” tanya Fajar sekali lagi.
Aku tak bisa menahan senyuman yang terlukis begitu saja di wajahku. “How could I say ‘no’?”
So…?”
“Of course I would!”  jawabku tanpa bisa menahan rasa bahagia yang kian membuncah. Fajar mencium keningku lembut lalu memelukku erat dan berkata, “Finally, I’ve found my sun.”

This is what I call happiness. When you spend your time with your family like there is no end of time, and when you finally found your love, your sun. What does happiness mean to you?



Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Proyek Menulis Letters of Happiness: Share your happiness with The Bay Bali & Get discovered!

Saturday, February 22, 2014

PULANG

Pulang, novel yang bercerita tentang cinta yang tanpa sadar sudah menemukan hati sebagai rumahnya, jauh sebelum ia mulai mencari. Tentang hati yang menunggu cinta untuk pulang. Tentang bagaimana cinta mempertahankan hati yang sudah datang. Jangan tanyakan bagaimana Rena mampu bertahan dengan kondisinya atau bagaimana sebenarnya perasaan Dirga. Baca dan nikmatilah setiap kejadian yang akan membawa cinta mereka pada hati yang kelak mereka anggap rumah.


Cover Pulang


Wednesday, February 19, 2014

Lebih Dari Cukup

                Tempat biasa, jam 8 malam
                Alika membaca pesan yang baru saja ia terima berulang-ulang. Ia mengerti maksud surat itu, sungguh ia mengerti. Tempat biasa yang dimaksud Roy, kekasihnya, adalah lantai paling atas dari gedung apartemen mereka. Alika sungguh mengerti mengapa Roy memintanya untuk menemuinya mala mini, tentu saja, hari ini tepat  hubungan mereka meginjak satu tahun. Yang tidak ia mengerti, mengapa harus malam hari? Mengapa tak saat sore hari? Bukankah menyasikan terbenamnya matahari bersama-sama itu… romantis?

***

                Sepuluh menit sebelum pukul delapan. Alika mematut bayangan dirinya di depan cermin. Memastikan penampilannya sebelum bertemu Roy di hari spesial mereka. Memang belum pukul delapan, tetapi Alika sudah berjalan menuju lantai atas.
                Seketika bulu kuduknya meremang. Gelap, di sana benar-benar gelap. Tak seperti biasanya, lampu-lampu kecil yang ada di atas semuanya padam. Baru saja Alika hendak untuk kembali turun ke apartemennya. Ia mendengar suara itu.
                “Jangan ke mana-mana, Alika…” sungguh, Alika tahu pasti itu suara Roy.
                “Roy, di mana???” tanya Alika sedikit panik, namun Roy tak menjawabnya, membuat Alika semakin panik.
                DUAAARR!
                Suara ledakan yang tidak begitu kencang tiba-tiba terdengar kurang lebih tujuh meter di depan Aiika. Warna warni kembang api terlihat jelas menghiasi langit yang cerah saat itu. Tepat saat itu pula, lampu-lampu kecil yang tadi padam kembali menyala, dan saat itu Alika mampu melihat sosok Roy yang tersenyum lembut ke arahnya dengan jelas.
                “Roy…” Alika tak mampu lagi berkata-kata, ia terlalu bahagia.
                Roy melangkah pelan mendekati Alika. Roy tampak mengambil sesuatu dari kantong celananya, sebuah lipatan kertas, lalu ia memberikan kertas itu pada Alika.
                Alika tampak bingung saat Roy memberi kertas itu, Alika buka lipatan tiap kertas perlahan-lahan lalu…
                “Alika, maukah kau menjadi wanita yang akan mengisi hari-hari tuaku nanti?”
                “Roy…” Alika kembali tak mampu berkata-kata.
                “Maukah?”
                “Apalagi yang bisa aku katakan? Tentu saja, Roy….” Jawab Alika pasti. Spontan Roy langsung memeluk Alika.      
                “Maaf ya, cincinnya baru gambar aja. Belum sempet beli hehehe.” Aku Roy malu.
                “Cuma cincin. It’s more than enough… Apa artinya sebuah cincin mahal jika kamu apa adanya sudah cukup?”

                Roy tersenyum mendengar ucapan Alika dan kembali memeluknya erat. Semua karena cinta.

Thursday, January 23, 2014

Nyoba nih

Holaaa~
Baru donlot blogger di hp nih, dan ini percobaan pertama gue ngepost dari hp ;;)
Dan ya, mayan lah walaupun gue blm tau hasilnya haha
olrait gitu aja sih ya, see ya ;)

Friday, December 27, 2013

Lluvia

                Hujan kembali mengguyur kota itu tanpa ampun. Adrian memang tak pernah membenci hujan, ia selalu suka hujan. Suara rintik yang begitu menenangkan, bau tanah yang semerbak karena tersiram air hujan yang menyejukkan, ia mencintai segala sesuatu tentang hujan. Termasuk pemandangan yang ia lihat saat ini, seorang wanita tak berpayung yang tampak dengan santainya berjalan di tengah rintik hujan.
                Mata Adrian tak sedetik pun melepaskan pandangan pada wanita berambut sebahu itu. Awalnya wanita itu tampak bingung, namun tiba-tiba wajahnya berbinar. Apa yang baru ia temukan? Pikir Adrian. Wanita itu melangkah dengan pasti. Ah, Adrian sadar… wanita menemukan café ini sebagai tempat meneduh, café yang sedang Adrian tempati.
                Pelayan yang berjaga di depan pintu member salam dan tersenyum sopan pada wanita yang sedari tadi Adrian pandangi. Wanita itu memilih tempat dekat dengan jendela, tepat di meja sebelahnya, meja bernomor 27. Tak henti-hentinya Adrian memandangi wanita itu, berusaha menelusuri tiap jengkal wajah wanita yang baru ia lihat saat hujan turun.
                Seperti sadar dipandangi, wanita itu menoleh ke arahnya dengan tatapan bingung. Adrian yang tertangkap basah sedang menatapi dirinya tak mampu berkutik. Wanita itu tersenyum lembut melihat Adrian yang nampak kaget tertangkap basah olehnya.
                “Suka kopi?” tanya wanita itu tiba-tiba sambil memandang Adrian lekat-lekat.
                Adrian menganggup mantap lalu berkata, “dan hujan.” sambil melemparkan senyum terbaiknya dan beranjak untuk duduk di sebelah wanita itu.

                Empat hal penting bagi Adrian hari ini. Senyuman, dua cangkir kopi, hujan, dan wanita yang baru ia jumpai yang selanjutnya ia panggil, Lluvia. Hujan.

Te Quiero

                “Sudah berapa tahun ya?” tanya lelaki berbadan tegap itu tiba-tiba pada wanta yang saat ini sedang asyik membaca majalah di sebelah.
                “Apanya yang sudah berapa tahun?” tanya wanita itu setelah meletakkan majalah yang ia baca di atas coffee table.
                Lelaki itu memandang wanita di sampingnya lekat-lekat lalu tersenyum., “kita bareng.”
                Tanpa sadar, wanita itu ikut tersenyum mendengar perkataan laki-laki itu. Dirasakan wajahnya mulai menghangat, pasti semburat kemerahan terlihat di wajahnya.
                “Emmm, berapa ya?” tanya wanita itu terlihat mulai menghitung dengan jari-jarinya.
                Alih-alih membantu wanitanya menghitung, lelaki itu malah menggenggam tangan wanitanya dan memintanya untuk berhenti menghitungi sudah berapa lama mereka bersama.
                “Belum selesai ngitung!” protes wanita itu.
                “Lupain aja.”
                “Ha?” terlihat jelas wanita itu tampak kaget. Apa kata lelakinya barusan? Lupain?  Melihat reaksi wanitanya yang begitu kaget karena kalimatnya, lelaki itu tertawa kecil dan kembali berkata.
                “Love is not about how many days, months, or years you’ve been together. Love is about how much you love each other everyday.”
                Wanita itu terdiam mendengar lelaki yang selama ini bersama dirinya mampu mengucapkan kata-kata manis seperti itu.
                “Lucu deh kamu, merah tuh wajahnya.” Ucap lelaki itu sambil mencubit hidung wanitanya pelan.
                “Ihh!” wanita itu tidak benar-benar kesal, ia hanya merajuk sambil memukul lengan kokoh lelakinya pelan.
                “Aku, akan selalu sama kamu, till death do us part.” Perkataan manis lainnya dari lelaki itu.
                Tak mampu lagi berkata-berkata, wanita itu hanya memeluk erat lelakinya, seperti tak ingin dipisahkan, seperti tak ingin dilepaskan.
                “Te quiero, mi querida.”  Aku mencintaimu, sayangku. Bisik lelaki itu pelan.

                “Te quiero, mi querido.” Aku mencintaimu, sayangku.